Download Nobunaga Concerto Subbed

http://iblos3om.files.wordpress.com/2014/05/oguri-shun.jpeg?w=615&h=884Ada yang kangen sama aktor multitalent bin kece and hot satu ini…..

penggemar Shun Oguri bisa melihat kerennya akting pria satu ini lewat drama musim gugur 2014 terbaru: Nobunaga Concerto. Drama ini diangkat dari komik atau manga dengan judul yang sama. Ceritanya Shun memerankan Saburo si Yankee yang mengalami time travel ke zaman perang. And well ternyata oh ternyata dia ketemu sama Oda Nobunaga yang mirip bingits sama doi. Si Nobunaga meminta tolong buat gantiin dia karena Nobunaga asli punya fisik yang lemah. dari sana mulai deh petualangan kocak, somplak bin gesrek Saburo yang nyamar jadi Oda Nobunaga. Eitsss…yang jadi nilai plus nih….ngga cuma si abang cakep ini yang menjadi daya tarik dorama satu ini….So Lets check the cast…

Nobunaga Concerto-p1.jpg

Ini main castnya ya guys…..Yang lupa takayuki yamada…sok atuh tonton Crows Zero, dia adalah Serizawa yang cool and macho itu lhoooo….hehehe….di jamin dorama satu ini T.O.P B.G.T. Ini Linknya yah Guys….

http://www.filmdrama.net/2014/10/download-nobunaga-concerto-2014-j-drama.html

Nobunaga Concerto-Shun Oguri1.jpg Nobunaga Concerto-Shun Oguri.jpg Nobunaga Concerto-Kou Shibasaki.jpg Nobunaga Concerto-Osamu Mukai.jpg Nobunaga Concerto-Takayuki Yamada.jpg
Shun Oguri Shun Oguri Kou Shibasaki Osamu Mukai Takayuki Yamada
Saburo / Nobunaga Oda Mitsuhide Akechi / Nobunaga Oda Kicho Tsuneoki Ikeda Denjiro Tahara

This Is Love : Special Songs from Super Junior with Full of Love

Setelah sukses dengan Mamacita, Idol grup super junior, kembali dengan lagu kece This is Love. sepertinya rencana pernikahan Sung Min membawa suasana cinta juga, yah meskipun fans berat cowok manis ini banyak yang sakit dan patah hati ya…..

lanjut lagu baru yang masuk album repackage ke tujuh ini, juga ada MV-nya lho dengan tema silver dan merah yang mendominasi. 10 Member SUJU so pasti pada kece-kece banget disiniLet Super Junior Color Your World With 'This Is Love' Video

http://k2nblog.com/mv-super-junior-this-is-love-hd-720p-youtube/

Mv-nya bisa di download di link di atas yoooo…..siap-siap meleleh sama cinta mereka nih….:P

Time Works Wonders : TVXQ new song

Grup Idola yang satu ini emang paling te.o.pe begete yah…
Baru beberapa waktu lalu realease album Tree, nah awal november duo kece ini bakal release lagu or single ke 42 mereka, judulnya Time Works Wonders. lagunya sendiri udah bisa di download secara digital yah guys….

https://koreanindo.files.wordpress.com/2014/09/tvxq1.jpg?w=664&h=670

Lagu ini ada PV-nya juga, yang supecial nih…ada versi sand artnya, kreatif deh….
PV-nya baru keluar yang short aja nih,,,,but…udah cukup bikin cassiopeia or bigeast menjerit kegirangan. Menurut admin sendiri siy, lagunya enak…apalagi bagian reffnya, vokal yunho sama changmin kerasa sexy banget. Rasanya adem banget denger nih lagu.

<a href=”http://uyeshare.wapka.me/site_index-of-mp3-detile.xhtml?cmid=22257196&get-artist=TVXQ%20(Tohoshinki)&get-title=Time%20%20Works%20%20Wonders”>TVXQ (Tohoshinki) – Time  Works  Wonders.mp3</a> (10.09 MB)

Sebulan dilantik, DPRD Bali minta gaji naik 2x lipat

MERDEKA.COM. Anggota dewan Provinsi Bali masih saja merengek soal gaji yang dianggap kecil dengan jumlah Rp 24 juta. Hebatnya lagi, belum ada satu bulan kerja mereka menuntut agar gaji dewan DPRD Bali berkisar Rp 50 juta.

Kenaikan jatah bulanan tersebut dipandang penting, karena selama ini pendapatan para anggota dewan jalan di tempat. “Selama ini (gaji) itu-itu saja. Gaji pokok ditambah tunjangan, kira-kira hanya Rp 24 juta,” ujar anggota Fraksi PDIP DPRD Provinsi Bali Dewa Nyoman Rai Adi, Kamis (11/9).

Katanya, pendapatan Rp 24 juta tiap bulan tersebut adalah pendapatan kotor. “(Pendapatan) Rp 24 juta itu (pendapatan) kotor. Karena belum dipotong untuk Gatriwara, fraksi, partai, dan lain sebagainya. Praktis yang kita terima sangat kecil,” tutur Dewa Rai, yang saat dihubungi sedang mengikuti Bimbingan Teknis (Bintek) dari Depdagri (Departemen Dalam Negeri) di Jakarta.

Idealnya, lanjut Dewa Rai, setiap bulan wakil rakyat di Renon mendapatkan jatah sekitar Rp 50 juta. “Idealnya (pendapatan dewan) dua kali (Rp 24 juta) itu. Ya, Rp 50 juta. Itu baru ideal. Sekarang terlalu kecil. Apalagi ini di Bali,” tegas mantan Sekretaris Komisi I DPRD Provinsi Bali, periode 2009-2014.

Katanya, dengan gaji tinggi jelas kinerja akan meningkat. “Saya menjamin, gaji Rp 50 juta membuat dewan tidak akan korupsi, atau sekedar mencari ceperan,” ujarnya.

Sumber: Merdeka.com

haduuh…haduuh…belum kerja yg bnr udah minta naik gaji…,rakyat kecil pasti kena imbas lho pak…buk….haduuh….haduuh…malu saya….

Is it Revenge?? Part 4

pagi itu Jaejoong tengah berjalan beriringan dengan namja yang tengah memainkan perannya sebagai pacar Jaejoong, ya, Choi Si won, namja jangkung itu merangkul pinggang Jaejoong mesra. Sesekali mereka melempar senyuman.
Beberapa orang melihat mereka iri, tak percaya atau bahkan langsung ngegosip, bukankah selama ini Jaejoong si model cantik itu tak pernah terlihat membawa pacar. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba sudah bersama laki-laki. Ouh…dunia ini memang milik mereka yang sempurna gumam beberapa karyawan. Mungkin juga Jaejoong memerlukan sosok ayah untuk anak angkatnya, begitu gumam para karyawan itu lagi.
Memang benar Jaejoong mengakui dirinya memiliki anak, tapi ia mengatakan jika Moonbin bukanlah anak kandungnya, ia tak mau menghancurkan karirnya begitu saja, memang dia merasa bersalah tapi ini semua juga demi Moonbin nantinya.
“ok…jam berapa kau selesai rapat hari ini?”, Tanya Si won
“mungkin jam 1 siang chagi, wae?”,
“tentu saja aku akan mnejemputmu…”
“ouh…hehehe…ok…jam 1 siang ne?”
“anyong…”, Si won mengecup kening Jaejoong. Pertamanya Jaejoong tentu kaget, tapi ini hanya acting. Dan dia mengakui acting kakak iparnya sangat bagus.
Jaejoong kemudian masuk ke dalam ruangan, tanpa ia sadari jika seseorang menatapnya dari tadi. “apa dia pacar barunya Hero?”, Yoochun berpikir keras. “aku harus memberi tahu hal ini pada Yunho”
Yunho berdiri di dekat jendela memandang kota Seoul dari ketinggian, tapi hiruk pikuk kota seoul bukanlah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Melainkan yeoja manis yang mengisi hatinya dari dulu hingga sekarang dan selamanya. Ia memutar untuk mencoba menerima fakta, bukan, mencari fakta yang ia yakini kebenarannya tidak hanya sekadar menerima.
“Yunho-ah!!!”
Sebuah suara membuatnya kaget, hampir saja ia terantuk kaca di depannya. “Aish…”, desisnya pelan ketika mengetahui siapa yang datang, sepupunya dengan tampang gawat darurat. “Kau ini kenapa?? Jangan berteriak seperti itu, aku masih mendengar…”,
“Ini berita penting…..saaaaaaangat penting….kau harus tahu….”
“iya-iya….katakan saja…tidak usah segitunya….”
“ini tentang Jaejoong…”,
Begitu mendengar nama yang disebutkab Yoochun, Yunho mendelik, siapa katanya tadi? Jaejoong? Ada apa dengan yeoja cantik itu??. Apakah terjadi sesuatu??
“tadi aku lihat dia di depan ruang rapat…..”,
Toenk…..=_=! Yunho memandang yoochun dengan tatapan cengo…
Bukankah itu biasa saja?? Ia juga tau kalo Jaejoong pasti akan ada di ruang rapat hari ini. “ aku belum selesai bicara tuan muda Jung….jangan memandangku seperti itu….”
“lalu?”
“Dia bersama seorang laki-laki…..”,
Yunho yang awalnya sedang membaca agenda rapat hari ini langsung mengalihkan pandangannya ke Yoochun.
“Laki-laki itu menciumnya juga…”,
Pluk!
Buku agenda rapat yang dipegang Yunho jatuh begitu saja. Amarah tiba-tiba merasuki Yunho. Ia ingin sekali menemui lelaki yang telah berani merebut Boojaenya, ia masih merasa berhak atas yeoja cantik itu.
“Yunho-ah…gwenchana yo??”, Yoochun mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Yunho.
“Kita mulai rapatnya sekarang…”, kata Yunho dingin dan segera meninggalkan ruangannya untuk menuju ruang rapat. Sementara Yoochun hanya bergidik ngeri. Kalo sudah begini, sepupunya sedang marah besar. Ia yakin itu, Yunho akan menjadi dingin ketika marah, bahkan dengan dirinya yang notabenenya adalah sepupunya sendiri. Aigoooo……gawat….
Jaejoong pov
Aku merogoh ponselku dari dalam tasku, haish…..siapa yang menelponku sepagi ini? Gerutuku kesal.
Moonbinnie calling…..begitu yang tertera di layar ponselku. Amarahku hilang sudah, ternyata anakku.
“Yoboseyo binnie chagi, waeyo??”
“Umma….eodigayo?? kenapa pagi-pagi umma udah ilang…”,
“hahaha…ani binnie ah…umma sedang bekerja sekarang, arra?”,
“ah..ne umma…apa binnie ganggu?”,
“uhm….”, aku mempoutkan bibrku. “kalo binnie nelpon lama-lama….iya…”,
“alaco…( arraso)…binnie ngelti….umma cemangat ne…binnie cayang umma…”,
Anakku ini.”ne..nado saranghae chagi….umma kerja dulu ya…”,
“ne umma calanghae…bye bye…”, klik!
Aku tersenyum simpul. Binnie ah..umma bekerja untukmu dan untuk takdir kita. Aku berbalik dan jantungku terasa mau lepas, di meja seberang Yunho sudah berdiri menatapku dengan tatapan yang tidak aku menngerti. “ah…yunho-shi…apa sudah lama kau disitu? Mianhe…aku tidak menyadarinya…”, jaejoong mencoba menetralisir keadaan.
“nde…cukup lama untuk mendengar orang menelepon…’, katanya sedikit angkuh. Kenapa dia? Apa dia marah? Biasanya dia akan begini kalo marah.
“mianhe…jeongmal mianheyo…aku…”,
“sudah…aku sudah menelpon Changmin…sebentar lagi dia datang…aku memajukan jadwal rapatnya…apa ada masalah?”
“ah…ani…aku tidak ada job hari ini…”, senyumku berusaha terlihat tenang.
Yunho masih menatapku nanar. Waeyo? Ah…chakkaman…apa dia melihatku di depan ruang rapat tadi?? Apa mungkin? Kalo memang itu alasannya…aku telah berhasil. Senyum kemenangan tiba-tiba muncul dari bibirku.
“waeyo??’, ah rupanya dia menyadari. “ani…aku hanya teringat tunanganku…ah tidak…tepatnya calon suamiku….”,
Yunho hampir jatuh dari kursi. Ia menatapku dengan pandangan tidak percaya.
“aish…aku keceplosan…jangan katakan ini pada media Yunho-shi…aku tak ingin membuat kehebohan…”, aktingku pura-pura malu. “aku tidak mau media heboh…”,
“sejak kapan kau bertunangan?”, Tanya Yunho sedikit menahan amarah, takut, dan juga kecewa. “uhm…mungkin…sekitar empat tahun yang lalu….mungkin lebih ya…aku bertemu dengannya di amerika….”,
Aku menatap Yunho yang kembali kaget, kau mengingat empat tahun yang lalu,eoh?
“kau kenapa?”,
“Amerika? Dimana?”. Aku tersenyum, tersenyum kemenangan, siap dengan shock selanjutnya, Yun-ho?
“Lord East….”, kataku tersenyum menghayati. “apa?????”,
“kenapa??”, tanyaku pura-pura heran. “ apa kau benar-benar bukan Jaejoong yang ku kenal?”,
Aku mendengus kesal, “tentu saja…berapa kali aku sudah katakan…aku mengenalmu saat di Seoul….ah..maaf…kenapa aku jadi tidak sopan….”,
“lebih baik begini….”, Yunho seperti tidak menyadari apa yang dikatakannya. Ia seperti terserang penyakit jiwa kronis. Ouh,,,,,aku sepertinya harus siap-siap mengadakan pesta kemenangan.
Yunho pov
Sebuah palu yang teramat besar seperti menghantam tubuhku, aku yakin dia Jaejoong, gadis yang aku temui di amerika, di lord east….aku yakin dia kekasihku dulu dan masih sampai saat ini. Aku belum memutuskan hubungan dengannya, aku juga belum menjelaskan apa-apa padamya.
Lalu sekarang apa? kenapa gadis ah tidak wanita yang ada di depanku tiba-tiba mengatakan sudah bertunangan? Bahkan akan segera menikah.
“Yunho-shi, apa kita bisa mulai rapatnya?” Tanyanya membuat lamunanku hilang sejenak namun perasaanku masih tak karuan, ini terlalu tiba-tiba, “Chang min sudah datang” lanjutnnya lagi mulai mengeluarkan tabnya. Aku hanya mengangguk ketika menyadari chang min menatapku dengan tatapan tajamnya, aku tidak mau adikku curiga.

Siang ini Yun ho tampak menikmati makan siangnya dengan lambat, dia tampak sesekali melamun, menatap keluar jendela restoran. Hembusan nafas dapat terdengar oleh sahabat sekaligus sepupunya yang juga ikut makan siang.
“Hyung…kau ini kenapa?”, tanyanya yang dari tadi penasaran dengan sikap Yunho.
“apa ini hukuman Yoochun-ah?”
“hah?”, Yoochun menjadi semakin bingung, bukannya menjawab kenapa Yunho bertanya balik padanya, dan Yunho bertanya tentang hukuman pula. Hukuman apa? Memangnya Yunho pernah membunuh orang?
“Maksud hyung apa?”
“bolehkah aku bercerita sesuatu padamu?”,
“nde…tentu saja…hyung bisa percaya padaku…”
“tapi tidak di sini, lebih baik kita kembali ke kantor, nanti kuceritakan semuanya”,
Dua lelaki tampan itu kemudian beranjak dari restoran kembali ke kantor Jung Corp. dan menuju ruangan Yunho.
“ok…kau bercerita tentang apa hyung?”, Yoochun memilih duduk santai di sofa sementara Yunho duduk di kursinya.
“Tunanganku…”.
“mwo??? Yang kau bilang mirip Hero?”,
Yunho mengangguk,”Aku yakin Jaejoong dan Hero orang yang sama,hanya saja ada yang aneh, Yoochun-ah, dia tak mengingat hubungannya denganku…”
“lalu? Bisa saja kan ada orang yang mirip…”
“Ani…aku merasakan saat aku tak sengaja memeluknya, aku mengenal aroma tubuh kekasihku dan tak ada orang yang memiliki aroma vanilla seperti itu selain Jaejoong…”,
“kau terlihat sangat yakin hyung? Parfum bisa di beli..”
“Haish…kenapa kau daritadi menyangkal terus, kau mendukungku tidak sih???”, Yunho sedikit kesal melihat tingakh sepupunya yang daritadi mencoba megalihkan bukti-bukti jika Jaejoong dan Hero orang yang sama.
“tentu saja…”
“kalau begitu kenapa kau tak membantuku menyelidiki Chun-ah?? Aku sangat butuh info lebih tentangnya…ada yang harus aku tanyakan,ah,ani…mengkonfirmasi langsung”
“hah? Kau mau konfirmasi apa?”
Yunho menghela nafas, mungkin sudah saatnya dia menceritakan semuanya. Dia tak sanggup lagi memendamnya sendiri.
“aku telah melakukan “itu” dengannya “,
“MWO???????”
“Yah!! Jangan berteriak, kau mau membuat karyawanku mencurigaiku yang tidak-tidak”, Yunho menjitak kepala Yoochun.
“kau serius?”.
“nde…dan aku mengeluarkannya di dalam, entah mengapa aku yakin dia hamil, untuk itu aku ingin tau, Yoochun. Aku ingin bertanggung jawab dan menjelaskan segalanya…”,
“kenapa tak hyung jelaskan dari dulu saja, membawanya ke korea, menikah, dan bahagia, dan aku yakin aku sudah punya keponakan sekarang”,
Pletak!
“appo…”,Yoochun kembali mendapat jitakan dari Yunho.
“kalau aku bisa aku akan melakukannya dari dulu, padahal aku sudah meletakkan surat untuknya, apa dia tak membacanya? Aku ingin dia menunggu sebentar,…dan dia malah menghilang….”, Yunho menutup wajahnya dengan telapak tangannnya.
“aku sangat mencintainya Yoochun-ah, tapi tak pernah ada kesempatan untuk menjelaskan semuanya, aku…..aku telah mencarinya kemana-mana….hiks…aku..aku…hampir putus asa…”
Yoochun menepuk-nepuk pundak Yunho, untuk pertama kalinya Yoochun benar-benar melihat sepupunya ini terpuruk seperti ini. Memang Hero dan Jaejoong sangat mirip, tapi apa iya mereka adalah orang yang sama.
“Hyung…dokumen ini a-“, Chang min tak jadi meletakkan dokumen yang dia bawa tapi duduk di sebelah Yoochun. “Yoochun hyung…yunho hyung gwenchanayo??”,
“aku rasa tidak…”
“waeyo? Hyung…apa ada masalah? Tak biasanya kau seperti ini…ah?”, dia tiba-tiba teringat sesuatu,”tadi…hero noo-“, baru saja Changmin menyebut nama wanita itu Yoochun berbisik,’jangan katakan nama wanita itu sekarang’,
‘wae?’ tanya Changmin juga berbisik, Yoochun mengarahkan matanya ke Yunho yang masih tertunduk.
‘ah..ne…ne’ kemudian Changmin menirukan gerakan menresleting di mulutnya. Tapi tidak dengan pikirannya. Dia mulai menganalisa temuannya ini dengan asumsi-asumsi yang dia punya. Yunho-hyung + hero noona = kasus. Sepertinya naluri detektifnya keluar lagi, kasus ini harus dia pecahkan, setidaknya mungkin dengan begitu dia bisa membantu hyungnya menemukan kebenaran. Yeah…dia merasa akan segera menjadi pahlawan hehehehehe…
Jaejoong POV
Senyum tak pernah meninggalkan bibirku sejak datang dari rapat dengan Yunho tadi. Rasanya dia ingin merekam semua adegan tadi, sedikit lagi dia akan menghancurkan Yunho. Sama seperti yang dilakukan Yunho padanya dulu.
“Umma? Kenapa senyum-senyum sendiri?”
“Ah?? Binnie…umma sedang bahagia chagi”
“Waeyo? Apa umma berhasil menemukan appa?”
“ani…umma hanya bahagia saja hari ini” Jaejoong mengecup pipi Moonbin.
“Ish..umma pelit…ngga ngasi tau binnie…” Moonbin mengerucutkan bibirnya lucu. “eh?”, Jaejoong kembali tertegun, gaya itu, kenapa semua yang ada pada ananknya begitu mirip dengan Yunho. Bahkan kalo ngambek pun,yang baru Jaejoong sadari, sangat mirip dengan Yunho .
“Uhm…binnie jangan marah,ne? bagaimana kalo kita jalan-jalan? Umma lama tidak jalan-jalan dengan binnie. Otte??”, Jaejoong mencoba membujuk putra tunggalnya.
“UHmmm…arraco…binnie mau beli es klim..capa tau ketemu appa…”,
Binnie…maafkan umma ne, kau takkan pernah tau siapa appamu.
Mall Toho, 16.46 KST
Yunho ingin sekali mengikat wanita di depannya sekarang juga, menyesal sekali dia menemani nenek sihir ini belanja kenapa dia tidak meminta Chil Hyun hyung saja yang menemaninya? Jika tidak karena ingin menenangkan pikiran, Yunho takkan mau menemani wanita satu ini yang terkenal gila belanja di seantero keluarga Jung. “Noona…kau membunuhku eoh? Sudah lebih dari tiga jam kita belanja…” Yunho menyeret paksa kakinya ke kursi dekat ruang ganti. Sepertinya ucapannya tadi seperti kibasan baju bekas saja.
“Aigooo..saengi…itu makanya carikan dirimu yang tampan nan rupawan ini istri, pabbo…”
“Kau yang sudah punya suami saja masih mengajakku…”, balas Yunho.
“Aishhh…kau ini! Noona mau nyalon,,,jadi bersenang-senanglah dulu sana…aku tak mau mendengar ocehanmu…”, BoA menyuruh Yunho keluar dari butik langganannya yang juga membuka salon.
Kenapa tidak dari tadi saja dia mengajak noona cerewetnya ini ke salon, dia bisa bebas dari puluhan tas-tas belanja yang mirip seperti festival tas itu. Selepas dari butik Yunho memutuskan untuk menuju tempat makan. Secangkir teh bisa menenangkannya mungkin.
Tempat minum teh yang dia cari memang agak sepi, dia sedang tidak ingin keramaian, yang ada dia nambah stress kalo begitu.
Yunho mencari meja strategis untuk duduk dan bersantai, matanya tiba-tiba menangkap sosok kecil di meja favoritnya. Siapa? Pikirnya, anak kecil sendiri di tempat ini, berani sekali, apa dia tak takut diculik.
“adik kecil…”,
“eoh…”, anak kecil itu berbalik. Yunho seperti kembali ke masa lalu menatap mata sipit anak di depannya.
“ajushi…mau duduk di sini juga?”,
“eoh…uh..iya…iya…boleh?”,
“uhm…ajushi duduk disini”,
Yunho mengambil temapt duduk di depan anak manis itu.
“kenapa sendiri? Kau berani sekali, dan pintar” Yunho benar-benar merasa tertarik dengan anak ini.
“ani…aku menunggu umma…umma sedang berbelanja…”
“ouh…kurae…namamu siapa?” aih…Yunho ingin menculik anak ini sekarang juga.
“aku…”
“Chagiya…”, sebuah suara menginterupsi perkenalan mereka. Anak kecil tadi menoleh ke asal suara. “umma…..”, sambutnya girang. Yunho tak melihat jelas umma anak lelaki itu. Padahal Yunho belum tau namanya kenapa dia sudah pergi.
“Ajushiii…binnie imnida…kim moonbin…”
Anak kecil tadi muncul lagi kemudian benar-benar meninggalkan tempat itu. Nama yang lucu,eh, aku rasa pernah mengingat nama itu, tapi dimana?
Flashback
“yuniie ah…kalo kita nanti menikah dan punya anak..mau diberi nama siapa”
“eoh…uhm…pikiranmu terlalu jauh…”
“haish…aku serius…uhm..nuguya?”
“ara..ara…kalo perempuan..namanya jung yunjae…”
“kalo laki-laki?”
“jung…moon..bin…”

Yunho segera berlari keluar dari café kecil itu, apa mungkin? Anak kecil tadi?? Dia berharap bertemu sekali lagi dengan moonbin, kim moon bin,ah aniya…mungkin saja dia jung…moon…bin…
Putranya…
Anaknya dari Jaejoong…

Is it Revenge?? Part 3

Yunho hampir jatuh dari kursinya melihat siapa yang berdiri di depannya, matanya tak bias berkedip melihat perempuan yang begitu cantik ini sekali lagi muncul di hadapannya. Sementara Jaejoong hanya tersenyum. Step 1 succesed ucapnya dalam hati. Jaejoong memandang Yunho penuh arti.

“kau tahu namaku? Kata Changmin kau belum tahu kalau aku bekerja sama dengan perusahaan ini?”, Jaejoong pura-pura bingung. “jae…jae..jaejoong…” hanya kata-kata itu yang mampu Yunho ucapkan.

Dia mengingatku rupanya, itu bagus, ini akan lebih memudahkan rencanaku. “Yunho shi..itu..kenapa kau memanggil namaku terus?”, Jaejoong hampir mengibarkan bendera kemenangan.

“Hyung…lihat ini…kau masih tak percaya kalau pacar…..mu…”, Yoochun berhenti seketika melihat siapa yang berdiri di depannya. Jaejoong yang menyadari kedatangan seseorang memalingkan wajahnya lalu tersenyum. “anyeonghaseyo…”, Yoochun melambaikan tangannya takut-takut. “aku…pergi dulu…sepertinya aku menganggu…”, Yoochun keluar dari ruangan itu terburu-buru meninggalkan majalahnya di meja Yunho.

“apa maksud laki-laki tadi?”,

“….”, Yunho tak menjawab begitu banyak kesadaran yang ia dapat tiba-tiba setelah tadi kepalanya seperti di tonjok. Pertanyaan mulai bermunculan di kepalanya, kenapa Jaejoong tak mengenalnya? Apa dia hilang ingatan? Atau ini Jaejoong yang lain? Tidak-tidak, iya yakin perempuan di depannya adalah kekasihnya, atau ia saja yang menganggapnya begitu. Tapi kenapa Jaejoong begitu?. Ini tidak boleh begini, Yunho bangkit dari tempat duduknya lalu secepat kilat menghambur memeluk Jaejoong.

Jaejoong sampai terhuyung ke belakang, hatinya tiba-tiba bergetar, apa-apaan dia? Pikirnya begitu ia menyadari kelakuan Yunho. “yah…Yunho shi…kau kenapa?”, Jaejoong berusaha terlihat sewajar mungkin padahal hatinya juga menangis melihat Yunho seperti ini. “jae…kau kenapa? Aku Yunho…jung Yunho kekasihmu….”, Yunho menangis di pundak Jaejoong.

Jaejoong berusaha tegar, jika tidak, air matanya pasti sudah menetes. Apa Yunho masih mencintainya? Tiba-tiba sedikit penyesalan menyusupi hatinya. Tidak-tidak, ia harus tetap pada tujuan utama. “yah…!!!”, Jaejoong mendorong tubuh Yunho, “kalau begini anda tidak sopan namanya…’, Jaejoong memasang wajah geram. “jae? Kau…lupa padaku?”, Yunho berusaha menenangkan hatinya setelah penolakan Jaejoong tadi. “lupa? Maaf…bagaimana aku bisa lupa kalau bertemu saja baru pertama kali…anda jangan bercanda…”, Jaejoong tersenyum. “jae…kau sudah melupakanku…’, tubuh Yunho merosot mendengar apa yang dikatakan Jaejoong, ia sudah melupakan Yunho, Yunho merasa seperti orang bodoh selama empat tahun menunggu untuk melihat Jaejoong, apa ia sudah lupa pada janjinya? Sebulir air mata jatuh lagi di pipi Yunho. “kenapa? Kenapa kau lupa…”, Yunho semakin bingung.

Jaejoong menatap Yunho nanar, pandangannya tak dapat di artikan, sebentar sedih kemudian amarah lalu kemenangan. Maaf yun, ini memang harus kau rasakan katanya dalam hati. Perlahan ia maju mendekati Yunho,”anda kenapa? Gwenchana? Tolong…jangan buat aku bingung, aku ke sini untuk membicarakan iklan produk yang harus saya bintangi…”, Yunho kembali tersadar. Apa katanya tadi? Membintangi produk? Yunho menatap Jaejoong yang menatapnya balik.

Yunho bangkit lalu mengambil proposal dari Changmin yang belum sempat ia periksa. Alangkah kagetnya katika melihat photo Jaejoong di sana, ia membaca lebih lanjut, kontrak selama 5 tahun. Ia menatap Jaejoong dan proposal itu bergantian. Kenapa dia tak menyadarinya, ia seharusnya mengetahui jika Jaejoong masih ada, ia meremas kepalanya. Frustasi, entah kenapa perasaan bersalah menyelimuti Yunho. Ia teringat malam empat tahun yang lalu, ketika ia merengut mahkota Jaejoong lalu pergi ke korea tanpa pamit, tidak bukankah ia sudah meninggalkan pesan, apa Jaejoong tidak membacanya? Lalu apa yang terjadi?. Pikirannya membuatnya bingung, kalut.

“Yunho shi? Gwenchana?”

“apa kau hamil?”, entah kenapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Yunho. Jaejoong terkesiap, dia tak menyangka pertanyaan itu muncul tiba-tiba dari Yunho. Ia menatap Yunho dengan tatapan yang sulit diartikan. “apa maksud anda?”, Jaejoong tampak berang. “ aku masih gadis, dan aku belum punya kekasih selama beberapa tahun belakangan ini…mana mungkin aku hamil…apa begini cara anda memperlakukan client?”, Jaejoong pura-pura marah.

“jae…berhenti mengelak…”,

“maaf…jika anda tetap seperti itu, saya rasa saya akan membatalkan perjanjian ini…saya masih punya banyak pekerjaan lain…”, Jaejoong beranjak dari kursi yang dia duduki kemudian melangkah keluar ruangan mewah itu.

Yunho hanya menatap kepergian Jaejoong, ia sama sekali tak ingin menghentikannya. Ia masih mencerna perubahan – kalau bisa disebut begitu – pada jaejoongnya.

Peristiwa empat tahun yang lalu kembali keingatannya, apa yang terjadi pada jaejoongnya?, dia yakin waktu itu mereka tidak menggunakan pengaman, bukankah itu murni kecelakaan walaupun mereka sama-sama menyukai, lalu apa dia menggugurkan anaknya? Apa dia setega itu? Haish………Yunho mengacak-ngacak rambutnya sendiri, ada perasaan bersalah yang menghinggapinya. Ia telah menelantarkan Jaejoong selama ini, tapi, bukankah dia sudah berusaha mencari Jaejoong selama ini, tapi apa hasilnya? Ia tak menemukan Jaejoong sampai ia bertemu denganya hari ini.

“Yah!!! Yunho hyung!!!!”, sebuah suara yang melengking membuatnya terhenyak, di depannya berdiri laki-laki jangkung dengan tatapan yang tak enak dipandang. “Apa?”, saut Yunho datar mengingat dia sedang malas untuk bicara tentang pekerjaan setelah kejadian tadi.

“haish…..kau ini hyung…kenapa Jaejoong noona keluar dari kantormu secepat itu dan dengan tampang seperti itu,eoh???” Tanya Changmin yang merupakan direktur pemasaran, jelas saja dia mencak-mencak seperti orang kesetanan melihat Jaejoong pergi dengan tampang seperti itu, dia dengan susah payah membuat Jaejoong untuk menyetujui iklan ini, dan sekarang hyungnya membuatnya jadi berantakan dalam waktu sekejap. Ia benar-benar ingin memakan orang di depannya saat ini.

Lain halnya dengan Yunho ia menjadi semangat kembali mendengar topic yang ingin dibicarakan oleh Changmin. “Min?”, Yunho mencoba menenangkan Changmin. “Min?!!”, tapi Changmin terus berbicara mengungkapkan kekesalannya. “Jung Changmmin!!!!, bisakah kau dengarkan aku dulu?”.

“Nde….Hyung….”, Changmin melunak melihat Yunho yang sebentar lagi akan meledak. “Darimana kau tahu Jaejoong?”,

“hah? Apa maksudmu hyung? Tentu saja aku yang bagian pemasaran harus mengetahuinya….dia baru pindah dari jepang dua hari lalu…” jelas Changmin menanggapi pertanyaan konyol kakaknya.

“jepang? Bukan Amerika?”,

“Ya…setahuku memang Jaejoong pernah tinggal di amerika…memangnya kenapa? Ah…hyung tertarik padanya??”, Tanya Changmin menggoda kakaknya yang memang jarang tertarik pada seseorang, memang ia pernah mendengar jika kakaknya mempunyai pacar sewaktu kuliah di amerika tapi entah bagaimana hubungan itu sekarang. Tunggu dulu…Amerika?

“Hyung…mungkinkah?”,

“apa? Jangan terlalu curiga Min…kau ini…sudah kembali bekerja sana…”, titah Yunho. Tapi bukan Changmin namanya jika ia tak berhasil menemukan keingintahuannya.

Jaejoong duduk di taman belakang rumah barunya saat ini, memikirkan rencana selanjutnya. Tadi siang hampir saja ia kehilangan kendalinya, shit! Ia mengumpat dalam hati. Ia akui Yunho masih terlihat tampan, mata musangnya dan bibirnya berbentuk hati…..haish…jae…ingat tujuanmu datang ke korea, ia mencoba menenangkan diri.

“Umma…”, sebuah suara mengalihkan perhatiannya. “binnie….”, Jaejoong meraih anaknya kemudian ia dudukkan di pangkuannya. “waeyo chagi?”, Jaejoong mengelus rambut almond anaknya. “Binnie…pengen..ketemu appa…”,

“eh?…itu…appa…appa sedang sibuk binnie…”,

“tapi binnie pengen ketemu…..cekali aja…”,

Jaejoong memeluk anaknya sayang, maafkan umma binnie, untuk saat ini kamu tak bisa bertemu appamu dulu, atau mungkin kau tak usah ketemu appamu selamanya. Bukankah ia sudah membuang kita kenapa kau masih igin bertemu dengannya? Kesal Jaejoong dalam hati.

“nde binnie…tapi jangan sekarang…appa sedang saaaaaaaangat sibuk…nanti appa pasti akan membelikan binnie banyak mainan, nde?”, Jaejoong mencoba merayu anaknya.

“Binnie ngga mau mainan binnie Cuma pengen liat appa binnie…”,

Dasar keras kepala, jung Moon Bin! Kau sama saja dengan appamu, eh?, Jaejoong menyadari pemikirannya tadi.

“Nde…nanti liat appa…tapi binnie mandi dulu sana…bau…masa binnie mau ketemu appa seperti ini…”,

“Ihhh…umma…binnie alum tau…emang cih ya binnie lum mandi…”, binnie mengecup pipi Jaejoong ,” binnie mandi deh…”, Moon bin turun dari pangkuan Jaejoong kemudian berlari ke dalam rumah sambil memanggil nama Junsu.

Jaejoong tersenyum melihat tingkah anaknya, kalau bukan karena moon bin ia takkan sanggup berdiri sampai saat ini.

“Yah!! Saengi…untuk apa kau menelponku,eoh?”, seorang wanita cantik dengan rambut coklat berjalan ditemani suaminya.

“Chullie eoni…..”, Jaejoong memeluk kakaknya itu. “ katakan apa maumu?”, Heechul yang mengetahui adiknya selalu bertingkah seperti ini jika ada maunya, langsung bertanya to the point. “sebenarnya bukan bantuan dari eoni..”,

“lalu?? Kenapa kau memanggilku?”, heechul duduk kemudian di susul suaminya si won. “ aku butuh bantuan si won oppa..”,

“ah? Naega? Mworago?”, Tanya si won menunjuk dirinya sendiri tak percaya.

“begini….”, Jaejoong mulai menceritakan niatnya datang ke korea ini. Mulai dari siapa itu jung Yunho, ceritanya dia dengan Yunho sampai niat balas dendam yang memang sudah bulat untuk dilakukan Yunho.

“Jae…apa kau yakin dengan semua ini?”, Tanya heechul sekali lagi, “tolong pikirkan moon bin, ia perlu tahu siapa appanya”,

“apa Yunho pernah memikirkan moon bin? Apakah ia mencariku setelah ia melakukannya? Bahkan ia sibuk sendiri…”, air mata mulai mengalir begitu saja.

“aku yakin Yunho pernah mencarimu..”,

“jangan membelanya si won…”, Jaejoong tampak tak suka jika rencananya yang telah tersusun matang dikacaukan dengan hanya seperti ini. “aku melakukannya demi moonbin….”

“Cheongmal?”. Heechul tampak meragukan alasan adiknya, “ apa benar ini karena moonbin? Jangan libatkan anakmu ke dalam dendammu Jae…dia berhak tahu siapa ayahnya…”, Heechul berhenti sejenak menatap adiknya sekilas berharap akan ada respon positif atau yang sangat diharapkannya Jaejoong mengakhiri rencananya.

Tapi yang ia lihat hanya Jaejoong yang tertunduk,”kalian ingin membantu atau tidak?”, Tanya Jaejoong to the point yang membuat heechul sedikit terkesiap mendengar pertanyaan adiknya yang langsung pada intinya, biasaya Jaejoong tak pernah seperti ini.

“ottokke chagi?”, si won seperti meminta izin kepada istrinya, ia tak tega melihat adik iparnya seperti ini, mungkin ia bisa membantu menyelesaikan masalah ini dengan perlahan-lahan dengan ikut masuk ke dalamnya. “ya sudahlah…bantu saja jae, wonnie ah…”, kata Heechul pasrah.

“khu…kenapa tidak daritadi…mulai besok oppa akan menemaniku tiap kali ke kantor Yunho, karena sekarang aku bekerja dengannya,otte?”

“no problem…”, sahut si won

“tolong jaga dia si won, jebal…”, pinta Heechul

“ne chagi…”, bisik si won sambil membelai rambut Heeschul saying.

“ouh…kau kira aku anak kecil eoni?”, protes Jaejoong.

“nde…bagiku kau masih anak-anak jae-ah…”,

“sudah-sudah…kenapa kalian jadi bertengkar?, kalo begitu kita pulang dulu, besok aku jemput kau, nde?”.

“nde oppa…”

Si won sedang membaca buku di atas tempat tidur ketika Heechul datang dan ikut merebahkan diri di sebelahnya. “Siwon?”

“hm…wae?”, dia menjawab panggilan istrinya tanpa melihat istrinya.

“aku takut.”

“soal?”, siwon masih tak melepas pandangannya dari buku yang ia baca

“Jaejoong…”,

“wae? Ada apa dengannya?”. Siwon mengalihkan pandangannya juga. Ia tahu istrinya sangat menyayangi adiknya. Itu karena mereka hanya hidup berdua sejak orangtuanya meninggal. Dan ketika istrinya membicarakan adiknya, biasanya ia akan menjadi emosional.

“ aku takut terjadi apa-apa dengannya…bukankah tindakan yang dilakukan jaejoong sangat konyol,hm?”, sebulir air mata menyusuri pipi putih Heechul. Si won meraup tubuh istrinya ke dalam pelukannya.

“untuk itu aku ingin membantunya chagi…aku yakin dia masih sangat mencintai Yunho…aku percaya itu…”.

“aku juga tau itu…tapi ia juga pernah tersakiti…jika aku dalam posisinya, aku pasti akan sempat berpikir apa yang Jaejoong lakukan saat ini”,

“nde…nde…chagi-ah…tenanglah…jika kau sayang padanya, bantu aku untuk mengembalikan mereka berdua ne?”,

“kau yakin?”

“ne…percaya padaku…”.

Si won memeluk istrinya, kemudian memejamkan matanya. Setidaknya ini yang bisa ia lakukan untuk orang yang dia sayang. Baik dulu maupun sekarang.

Is it Revenge?? Part 2

Matahari memaksa masuk melalui celah-celah tirai kamar apartemen Jaejoong. Si empunya menggeliat karena silau cahaya matahari, diregangkannya otot-otot yang lelah semalam tanpa membuka matanya. “morning yunnie…”, sapanya, berharap kekasihnya memeluknya lebih erat saat ini. Eh? Kenapa tak ada jawaban? Apa dia masih tidur? Jaejoong membuka matanya. Alangkah kagetnya ia tidak mendapati Yunho ada di sampingnya. Apa dia mandi? Pikir Jaejoong lalu beranjak ke kamar mandi. “ouch” ringisnya karena lubangnya masih terasa sakit.

“Yunnie?”, panggilnya membuka pintu kamar mandi. Kosong. Kemana dia?. Jaejoong berusaha mencari ke seluruh penjuru apartemen tapi, tetap tidak ada kekasihnya. Apa dia keluar? Aku coba hubungi ponselnya.

Tut! Tut! Tut!’nomor yang anda hubungi berada di luar jangkauan kami’. Perasaan Jaejoong tiba-tiba bingung, rasa kecewa mulai muncul. Apa Yunho pergi meninggalkannya begitu saja? Ah tidak,tidak, Jaejoong mencoba menepis pikiran negatifnya. Dia putuskan kembali ke kamarnya saja dan menghubungi Yunho lagi dan ternyata tetap tidak ada hasil. Air mata mulai membanjiri pipinya. “Yun…kau diamana?”, isaknya mulai frustasi. Diremasnya perutnya yang sudah terisi benih yunho, “kau kejam Yunho…”.

Sebuah kertas kecil yang terjepit kaki lampu menarik perhatian Jaejoong. Ditariknya kertas itu, bibirnya bergetar, air mata semakin tumpah ruah di pipinya. “Yunho…..kau jahat…jahat…aku benci! Aku benci padamu!!!!!!!!!!!”, teriaknya semakin histeris sembari merobek kertas itu

Jae…maaf…aku harus kembali ke korea

Dan tak tahu kapan kembali…

Sekali lagi maafkan aku….

Yunho…

 

4 tahun kemudian, Seoul, Korea Selatan

Sebuah gedung mencakar langit berdiri megah di tengah Seoul yang memang kota sibuk. Ratusan karyawan dan karyawati lalulalang di kantor megah tersebut. Di lantai 30 sebuah ruangan mewah dengan warna putih dan silver menjadi tempat pemimpin terbesar perusahaan ini berada. Dari balik laptopnya dia tampak serius mengerjakan pekerjaan yang sepertinya tidak pernah selesai sejak ia kembali dari Amerika.

Ya, Jung Yunho, putra tunggal pemilik perusahaan ini telah menggantikan ayahnya yang sakit sejak empat tahun yang lalu. Semuanya terjadi begitu saja, ayahnya terkena stroke empat tahun yang lalu dan hingga saat ini menjadi lumpuh, alhasil posisi presiden direktur terpaksa ia yang ambil alih, dan mungkin untuk selamanya.

“hah…’, Yunho menghela nafas panjang, memijat keningnya. Semalam dia hanya tidur 3 jam dan harus bangun pagi-pagi untuk kerja lagi.

“Hyung…proposal mengenai iklan produk baru sudah di antar kemari oleh Changmin?”, seorang pria manis berambut hitam menghampiri Yunho. “,ah..Yoochun…sudah, aku masih memeriksa data yang lain, mungkin setelah ini baru kuperiksa….”, jawabnya.

“kau kelihatan lelah…”, Yoochun duduk di sofa yang ada di ruangan itu. “ani…aku sudah biasa…”, sangkal Yunho yang malah membuat Yoochun mencibir. “Hey…berapa lama kita saling kenal Jung Yunho, dari waktu kita masih sama-sama ngompol tau…”. Yoochun yang memang sepupunya ini sudah menganggap Yunho kakaknya sendiri, maklum sama-sama anak tunggal meraka jadi akrab.

“iya…iya…daripada kau mengoceh lebih kau periksa proposal yang diberikan Changmin”, perintah Yunho pada Yoochun sebelum dia kembali mengoceh. “baik-baik,…kau yakin dengan penilaianku?”, Yunho menghentikan aktivitasnya dan menatap yoochun,”bukankah kau bilang sudah mengenalku sejak kita ngompol, jadi kau mestinya tau seleraku…”,

“iya…siapa tau sudah berubah sejak kau bertemu dengan jae…oops!”, Yoochun yang hendak mengambil proposal iklan menutup mulutnya, dia hampir keceplosan. Yunho mengerutkan keningnya mendengar kalimat terakhir Yoochun. “Maksudmu Jaejoong?”, Tanya Yunho meyakinkan apa yang di dengarnya tadi. “a…maaf hyung…ngga maksud…hehehe…”

“aku rindu padanya, aku kehilangan kontak dengannya, aku merasa bersalah aku sudah pergi tiba-tiba, entah bagaimana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya…” wajah Yunho berubah murung seketika.”anu..hyung…boleh aku tau jaejoong noona itu seperti apa? “,

“eh, wae? Kenapa tiba-tiba…”,

“tidak-tidak…aku hanya penasaran…”, Yunho membuka folder di dalam laptopnya kemudian memperlihatkan foto seorang yeoja pada Yoochun

pacarnya,kalo masih bisa disebut begitu, dengan bangga. “dia benar-benar cantik…tak heran kau kepincut, tunjukkan yang lain hyung…”, pinta Yoochun yang seolah tersihir.

“chakkaman??”, Yoochun mengerutkan keningnya.

“wae?”, Tanya Yunho heran

“sepertinya aku pernah melihatnya hyung?”.

“jangan bercanda, dia di amerika tau”,

“serius hyung, ani, chakkaman..dia…”, Yoochun mencoba mengingat-ngingat, “ah! Hero! Ia dia hero! Model yang sedang naik daun…iya, itu dia, aku melihat di majalah minggu ini…aku yakin hyung…”, Yoochun terus mengoceh dengan semangat. Sementara Yunho hanya cengo melihat Yoochun yang kegirangan”, kau jangan bercanda? kau terkena petir dimana sampai seperti ini?”, Yunho bengong melihat Yoochun menunjuk-nunjuk foto Jaejoong.

“apa kau tak mempercayai sepupumu ini??”,

Yunho mendekatkan wajahnya ke wajah Yoochun,”nde…’, jawaban Yunho datar.

“kalau tidak percaya aku ambil majalah nya, kau saja yang workaholic hyung, model seterkenal ini kau tak tahu….”

“yah!”, sebuah pukulan berhasil mendarat di kepala Yoochun. “dia kekasihmu hyung…masa’ kau tak tahu?”. Yoochun menggosok bagian kepalanya yang terkena pukulan maut seorang Jung Yunho.

“sudah sana ambil majalahmu…kau ini ribut sekali….’, Yunho mendorong sepupunya untuk bergegas mengambil majalah yang dimaksud. Ia jadi ikut penasaran karenanya, apa mungkin Kim Jaejoong kekasihnya sudah menjadi model sekarang. Dia tak habis pikir.

Sementara itu lobi hotel tak seperti biasanya, ramai seperti ada pasar kaget, jangankan laki-laki, perempuan pun ikut berjubel di sana. Changmin yang kebetulan lewat menyadari ada yang tak beres. “YAH!!!! KEMBALI BEKERJA!!! KALIAN PIKIR HYUNG MENGGAJI KALIAN UNTUK INI!!!!”, teriaknya dengan suara tinggi melengking(inget suara melengking Min oppa di rising Sun). Serentak karyawan dan karyawati itu menhambur seperti waria ketemu trantip, barulah Changmin tahu apa penyebabnya. Di sana di meja resepsionis seoarang yeoja manis berkulit putih, bermata besar dan memiliki bibir yang merah berdiri menjelaskan sesuatu pada pegawai resepsionis.

“Ah…Hero-shi kau sudah datang?”, changmin menghampirinya

“Oh…ne…maaf kalau tak langsung menemuimu…”.

“animnida…aku yakin kau belum bertemu presdir…”.

“tepat sekali…”, Hero tersenyum manis membuat dua resepsionis di sampingnya memekik gila. “kalian….ya sudah…aku antarkan…”.

“ah…baik…ladies…nanti kita lanjutkan lagi…bye…”, Hero melambaikan tangannya kemudian mengikuti Changmin dari belakang. Sebentar lagi Jung Yun Ho,kau tak akan hidup tenang, katanya dalam hati.

Flashback

          Baju-bajunya sudah ia kemas, sebagian telah ia kirim terlebih dahulu ke Korea, ke rumah yang baru di belinya. Ia akan kembali ke kampung halamannya, ia bukan hanya sekedar kembali tetapi menuntut atas apa yang ia dapat dari laki-laki yang dulu pernah mengisi hatinya. Ia berjalan menuju ruang tamu.

“Eoni…kau sudah siap??”. Tanya seorang perempuan bermata sipit

“nde…junsu ah…moon bin kemana?”,

“ah…dia ada di kamarnya, katanya mau mengambil sesuatu…”

“Umma…….”, seorang anak kecil berlari ke arah Jaejoong,”Anak umma….kamu ngambil apa tadi chagi?”, Jaejoong memeluk anaknya. “ini…”, dia menunjukkan sebuah jam tangan di depannya, hatinya tiba-tiba miris, itu jam tangan Yunho yang tertinggal empat tahun yang lalu, dia memang mengatakan itu jam tangan Ayahnya tapi Moon bin tak pernah tahu nama Ayahnya. Dan sebisa mungkin tak akan pernah tahu. “kenapa tidak tinggal saja.eoh?…junsu..tolong angkat koperku…”, katanya kemudian mengalihkan pandangannya ke anaknya,’nde eoni…”,

“umma ini bagaimana cih…ini satu-satunya benda punya appa kan…aku cayang cekali sama jam ini, aku ingin melihat appa menggunakannya…”, jaejoong memeluk anaknya sayang mendengar kata-kata anaknya tadi. Sebenarnya dia tak tega, tapi sakit hatinya membuat Jaejoong begini. Ia terpaksa pergi dari Amerika ke Jepang sampai anaknya lahir, iya, dia kemudian menginap di rumah junsu, kawan lamanya.Ia tak mau orang tuanya sampai tahu. Ia mencoba bangkit lagi, bekerja apapun hingga ada agensi yang ,menawarinya casting model. Syukurlah…ia masih di sayang Tuhan, ia menjadi model ternama berkat kerja kerasnya melawan takdir, berusaha demi anaknya.

“ya…sudah…kita berangkat sekarang..”,

“apa binnie bisa bertemu appa di korea??”, pertanyaan anaknya membuat jaejoong terhenyak, ia tahu Yunho pasti ada di korea mungkin menjadi orang terkenal karena ia tahu perusahaan Jung adalah perusahaan terbesar di sana. “umma juga tak tahu…”, sahutnya tersenyum miris. “padahal binnie sudah berdoa tiap hari…”. Binnie membuat pout di bibir mungilnya

“eoni ppali…”, Junsu muncul di balik pintu keluar, dia cepat juga jika sudah bekerja. “nde….kajja chagi…kita pulang…”, Jaejoong menggendong anaknya masuk ke dalam mobil.

 

End of flashback

Mereka tiba di depan pintu sebuah ruangan, Jaejoong tersenyum penuh kemenangan, sebentar lagi Jung Yun Ho, kau harus tahu rasanya di campakkan. “ah…changmin-ah…”,

“nde?”, changmin yang ingin mengetuk pintu mengurungkan niatnya.

“bolehkah aku menemui mr.jung sendiri?”,

“ouh…tentu…karena hyung belum pernah tahu aku menggunakanmu untuk iklan produk ini”,

Itu bagus Changmin, aku berterima kasih atas itu,’tunggu sebentar…”, changmin mengetuk pintu. Kemudian terdengar sahutan dari dalam untuk menyuruh masuk.

“nah…silahkan masuk…kalau ada perlu panggil aku saja…atau yunho hyung juga boleh….mulai sekarang kau adalah partner kami…”, kata changmin menepuk bahuku lalu berlalu pergi.

Begitu tubuh laki-laki jangkung itu menghilang, Jaejoong tersenyum puas. Jadi dia ada di dalam, menungguku? Diriku yang mana? Dia tertawa dalam hati, apa dia masih ingat padaku, setahunya Yunho belum menikah sejak ia pergi, tidak sulit mencari info seorang pengusaha sukses. Perlahan Jaejoong membuka pintu di depannya. Ia berjalan perlahan, orang di dalam ruangan itu masih belum menyadari kedatanganya. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya. Jaejoong menyapu seluruh ruangan itu melalui pandangannya. Tidak buruk, malah terkesan sedikit mewah dengan alat-alat elektronik yang ada di sana. “ah…maaf aku tak menyadari kedatanganmu….”,

“aku juga minta maaf atas kelancanganku tak menyapa Anda….”, Jaejoong menunduk dalam,”Mr.Jung”, ucapnya menegakkan tubuhnya…..

“Kau? Jae…jae…jaejoong?????????””